Sabtu, 11 Mei 2019

PT. TEKA TEKI MELAKUKAN PELATIHAN DALAM BIDANG DIGITAL TERHADAP PARA GURU PADA 8 KOTA DI INDONESIA

Disclaimer

Informasi yang tertulis dalam blog http://dindapratiwi21.blogspot.com/ secara umum belum tentu kebenarannya. Blog http://dindapratiwi21.blogspot.com/ tidak bersifat sara ataupun konten negatif. Blog http://dindapratiwi21.blogspot.com/ tidak bertanggung jawab atas kesalahan tafsir yang tersirat maupun tersurat mengenai isi blog ini. Blog http://dindapratiwi21.blogspot.com/ berhak mengedit, menghapus, dan memperbarui isi blog ini. Blog http://dindapratiwi21.blogspot.com/ meminta maaf apabila ada kesaahan kata atau tulisan kesamaan nama, lembaga, Negara dan lainnya karena blog http://dindapratiwi21.blogspot.com/ itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaaan. Semua isi dalam blog berkaitan dengan pemenuhan tugas kuliah. 

BAB I
ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui subyek dan obyek program pembelajaran ICT bagi guru di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh PT. Teka Teki secara konsisten sejak 2008 yang lalu.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan metode penelitian yang diterapkan dalam penulisan ini menggunakan pendekatan hukum yuridis normatif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengkajian perundang-undangan yang berlaku dan diterapkan terhadap suatu permasalahan hukum tertentu yang artinya sumber data yang diambil untuk penulisan ini adalah bersumber dari data sekunder yang berupa bahan-bahan hukum dan buku. Program yang dilakukan yaitu menggunakan metode-metode pengajaran yang dahulu dikenal dengan tajuk “Bagimu Guru Ku Persembahkan” untuk melatih ribuan guru.
Hasil dari penelitian ini, penulis menemukan program tersebut telah menjadi program Indonesia Digital Learning yang berfokus pada bagaimana memberikan edukasi dan pelatihan pada para guru untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam melakukan pengajaran di kelas. PT. Teka Teki ingin meningkatkan profesionalisme guru sebagai tenaga pendidik dengan memanfaatkan perangkat IT serta mengenalkan metode pembelajaran berbasis digital dan dapat memahami efektifitas teknologi melalui digital learning yang memudahkan proses belajar mengajar sebagai sarana untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

BAB II
CONTOH KASUS

PT. Teka Teki merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Teka Teki adalah Pemerintah RI sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik. PT. Teka Teki memiliki kegiatan usaha yang bertumbuh dan berubah seiring dengan perkembangan teknologi, informasi dan digitalisasi, namun masih dalam koridor industri telekomunikasi dan informasi dan saat ini sudah mengelola 6 produk portofolio yang melayani empat segmen konsumen, yaitu korporat, perumahan, perorangan dan segmen konsumen lainnya.
Di Tahun 2016, PT. Teka Teki mengadakan Indonesia Digital Learning (IDL) sebagai salah satu program CSR dengan wujud kepedulian perusahaan terhadap pergerakan kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya perkembangan potensi, minat, bakat dan skill bagi para guru dalam bidang digital atau penggunaan system Information, communication, and technology (ICT). Secara khusus, program ini dibuat sebagai program peningkatan kompetensi guru di bidang TIK dalam proses belajar mengajar. Banyak perusahaan swasta maupun BXY dapat dinilai menggunakan sejumlah parameter yang salah satunya dampak dari program yang dilaksanakan, serta mengacu pada tingkat dan cakupan kesuksesan program dalam mengatasi sebuah masalah berdasarkan identifikasi kebutuhan sosial. Faktor inovasi out of the box yang mengacu pada strategi dan inisiatif baru dengan pendekatan yang belum diterapkan secara luas, dan dapat diadopsi dalam menjalankan kebutuhan sosial.
Strategi CSR yang diterapkan oleh PT. Teka Teki mengambil konsep “Triple Bottom Line”, yang mana perusahaan dapat melaksanakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan memandang agar perusahaan tetap eksistensi nya. Dalam wujud suatu bisnis harus memperhatikan aspek pencapaian yaitu Profit, People, Planet (“3P”) dengan seimbang. Dan dengan mengupayakan laba (profit), perusahaan juga harus terlibat dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat (people) dan selalu ikut serta berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet).

BAB III
ANALISIS KASUS

PT. Teka Teki mengadakan pelatihan IDL yang dilaksanakan di 8 kota yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Jogjakarta, Balikpapan, Jayapura, Makassar, dan Bandung. Setelah proses pelatihan IDL selesai dilaksanakan, selanjutnya akan diadakan Training Camp MTMH dan akan terpilih 45 orang hasil dari pelatihan IDL, kemudian akan disaring lagi menjadi 17 orang. Lalu hasil akhir akan menjadi 8 orang terpilih dalam awarding My Teacher My Hero Competition. Dalam pelatihan Indonesia Digital Learning, peserta akan melakukan training yang dipandu oleh para pakar yang terpilih dengan mengaplikasikan modul yang telah dibentuk oleh PT. Teka Teki bagi para guru dalam mengaplikasikan kualifikasi digital yaitu Information, Technology and Communication (ICT). Pada program pelatihan Indonesia Digital Learning diharapkan para peserta mampu mengaplikasikan materi-materi dalam Modul IDL 2016. 
Tujuan penerapan dan komitmen yang diterapkan PT. Teka Teki dalam program CSR ini yaitu untuk memberikan nilai tambah perusahaan dalam performasi perusahaan, dan stakeholder dalam upaya mendukung kemajuan serta mewujudkan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat, dengan berkontribusi nyata dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Selain itu, program Indonesia Digital Learning bertujuan untuk mengenalkan metode pembelajaran berbasis digital kepada guru-guru, sehingga para guru dapat memahami efektifitas teknologi melalui digital learning yang memudahkan proses belajar mengajar dalam memperoleh akses untuk materi pembelajaran. Dengan mengajak para guru, program ini menghimbau guru-guru untuk memberikan materi pembelajaran yang menarik dan ekperimental dengan digital learning, serta memahami konsep pengelolaan kelas yang efektif dan efisien melalui metode digital learning yang mana nantinya para guru dapat mengaplikasikan materi pelatihhan dalam proses pembelajaran disekolahnya masing masing.
Adapun tujuan khusus PT. Teka Teki dalam porogram CSR, yaitu untuk memberikan presepsi bahwa PT. Teka Teki akan selalu ada dikalangan masyarakat dengan memberikan pelatihan kepada guru-guru SD, SMP, SMA dan sederajat. Pelatihan yang diberikan kepada para guru yaitu mengenai pembelajaran berbasis digital dengan waktu pelatihan yang diselenggarakan berbeda di setiap kotanya. Pada pelatihan yang diselenggarakan kali ini diikuti oleh 2.356 guru dari seluruh Indonesia.  Dengan tujuan untuk meningkatkan profesialisme guru sebagai tenaga pendidik dengan memanfaatkan perangkat IT sebagai sarana untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.  

Program CSR kali ini memiliki peran terhadap pembentukan citra perusahaan. Banyak dampak yang dirasakan oleh perusahaan dengan menjalankan kegitan ini. Dari sisi sosial, perusahaan mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, lalu secara integritasnya program Indonesia Digital Learning (IDL) merupakan salah satu program yang berkelanjutan di PT. Teka Teki. Dengan adanya kegiatan Indonesia Digital Learning ini, PT. Teka Teki dapat berkolaborasi dengan seluruh guru yang ada di Indonesia. Dampak yang dirasakan perusahaan didukung oleh perubahan presepsi peserta kepada PT. Teka teki, setelah mengikuti program Indonesia Digital Learning.
Dengan melaksanakan program CSR ini, PT. Teka Teki meraih penghargaan sebagai The Best Program untuk Kategori Peningkatan Mutu Pendidikan dalam ajang Nusantara CSR Summit & Awards 2016. Melalui meningkatkan kompetensi, keterampilan dan kualitas pengajar, khususnya dengan memanfaatkan ICT dalam proses belajar mengajar. PT. Teka Teki dinilai berhasil memberi pengaruh positif bagi perubahan kepada kehidupan komunitas guru.

DAFTAR PUSTAKA


Ramadhan, Bagus, 2016. Program IDL oleh PT. Teka Teki Dinobatkan Sebagai Program CSR terbaik di Indonesia.[Internet]. [Dilihat 11 April 2019]. Tersedia pada : https://www.guutnyusfromindonesia.id/2016/10/21/program-ini-dinobatkan-sebagai-program-csr-corporate-terbaik-di-indonesia

Sabtu, 13 April 2019

Disclaimer

Pelatihan Para Guru oleh PT. Teka Teki
dalam Bidang Digital pada 8 Kota di Indonesia

Bab I
Abstrak


Tujuan penelitian ini untuk mengetahui subyek dan obyek program pembelajaran ICT bagi guru di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh PT. Teka Teki secara konsisten sejak 2008 yang lalu. Program yang dilakukan yaitu menggunakan metode-metode pengajaran yang dahulu dikenal dengan tajuk “Bagimu Guru Ku Persembahkan” untuk melatih ribuan guru. Hasil dari penelitian ini, penulis menemukan program tersebut telah menjadi program Indonesia Digital Learning yang berfokus pada bagaimana memberikan edukasi dan pelatihan pada para guru untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam melakukan pengajaran di kelas.

Contoh Kasus 

PT. Teka Teki merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Teka Teki adalah Pemerintah RI sebesar 52.09%, sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik. PT. Teka Teki memiliki kegiatan usaha yang bertumbuh dan berubah seiring dengan perkembangan teknologi, informasi dan digitalisasi, namun masih dalam koridor industri telekomunikasi dan informasi dan saat ini sudah mengelola 6 produk portofolio yang melayani empat segmen konsumen, yaitu korporat, perumahan, perorangan dan segmen konsumen lainnya.
Di Tahun 2016, PT. Teka Teki mengadakan Indonesia Digital Learning sebagai salah satu program CSR dengan wujud kepedulian perusahaan terhadap pergerakan kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya perkembangan potensi, minat, bakat dan skill bagi para guru dalam bidang digital atau penggunaan system Information, communication, and technology (ICT). Secara khusus, program ini dibuat sebagai program peningkatan kompetensi guru di bidang TIK dalam proses belajar mengajar. Banyak perusahaan swasta maupun BXY dapat dinilai menggunakan sejumlah parameter yang salah satunya dampak dari program yang dilaksanakan, serta mengacu pada tingkat dan cakupan kesuksesan program dalam mengatasi sebuah masalah berdasarkan identifikasi kebutuhan sosial. Faktor inovasi out of the box yang mengacu pada strategi dan inisiatif baru dengan pendekatan yang belum diterapkan secara luas, dan dapat diadopsi dalam menjalankan kebutuhan sosial.
Strategi CSR yang diterapkan oleh PT. Teka Teki mengambil konsep “Triple Bottom Line”, yang mana perusahaan dapat melaksanakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan memandang agar perusahaan tetap eksistensi nya. Dalam wujud suatu bisnis harus memperhatikan aspek pencapaian yaitu Profit, People, Planet (“3P”) dengan seimbang. Dan dengan mengupayakan laba (profit), perusahaan juga harus terlibat dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat (people) dan selalu ikut serta berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet).
PT. Teka Teki juga mengadakan pelatihan IDL yang dilaksanakan di 8 kota yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Jogjakarta, Balikpapan, Jayapura, Makassar, dan Bandung. Setelah proses pelatihan IDL selesai dilaksanakan, selanjutnya akan diadakan Training Camp MTMH dan akan terpilih 45 orang hasil dari pelatihan IDL, kemudian akan disaring lagi menjadi 17 orang. Lalu hasil akhir akan menjadi 8 orang terpilih dalam awarding My Teacher My Hero Competition. Dalam pelatihan Indonesia Digital Learning, peserta akan melakukan training yang dipandu oleh para pakar yang terpilih dengan mengaplikasikan modul yang telah dibentuk oleh PT. Teka Teki bagi para guru dalam mengaplikasikan kualifikasi digital yaitu Information, Technology and Communication (ICT). Pada program pelatihan Indonesia Digital Learning diharapkan para peserta mampu mengaplikasikan materi-materi dalam Modul IDL 2016. 
Tujuan penerapan dan komitmen yang diterapkan PT. Teka Teki dalam program CSR ini yaitu untuk memberikan nilai tambah perusahaan dalam performasi perusahaan, dan stakeholder dalam upaya mendukung kemajuan serta mewujudkan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat, dengan berkontribusi nyata dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Selain itu, program Indonesia Digital Learning bertujuan untuk mengenalkan metode pembelajaran berbasis digital kepada guru-guru, sehingga para guru dapat memahami efektifitas teknologi melalui digital learning yang memudahkan proses belajar mengajar dalam memperoleh akses untuk materi pembelajaran. Dengan mengajak para guru, program ini menghimbau guru-guru untuk memberikan materi pembelajaran yang menarik dan ekperimental dengan digital learning, serta memahami konsep pengelolaan kelas yang efektif dan efisien melalui metode digital learning yang mana nantinya para guru dapat mengaplikasikan materi pelatihhan dalam proses pembelajaran disekolahnya masing masing.
Adapun tujuan khusus PT. Teka Teki dalam porogram CSR, yaitu untuk memberikan presepsi bahwa PT. Teka Teki akan selalu ada dikalangan masyarakat dengan memberikan pelatihan kepada guru-guru SD, SMP, SMA dan sederajat. Pelatihan yang diberikan kepada para guru yaitu mengenai pembelajaran berbasis digital dengan waktu pelatihan yang diselenggarakan berbeda di setiap kotanya. Pada pelatihan yang diselenggarakan kali ini diikuti oleh 2.356 guru dari seluruh Indonesia.  Dengan tujuan untuk meningkatkan profesialisme guru sebagai tenaga pendidik dengan memanfaatkan perangkat IT sebagai sarana untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.  
Program CSR kali ini memiliki peran terhadap pembentukan citra perusahaan. Banyak dampak yang dirasakan oleh perusahaan dengan menjalankan kegitan ini. Dari sisi sosial, perusahaan mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, lalu secara integritasnya program Indonesia Digital Learning merupakan salah satu program yang berkelanjutan di PT. Teka Teki. Dengan adanya kegiatan Indonesia Digital Learning ini, PT. Teka Teki dapat berkolaborasi dengan seluruh guru yang ada di Indonesia. Dampak yang dirasakan perusahaan didukung oleh perubahan presepsi peserta kepada PT. Teka teki, setelah mengikuti program Indonesia Digital Learning.
Dengan melaksanakan program CSR tentang Indonesia Digital Learning (IDL), PT. Teka Teki meraih penghargaan sebagai The Best Program untuk Kategori Peningkatan Mutu Pendidikan dalam ajang Nusantara CSR Summit & Awards 2016. Melalui meningkatkan kompetensi, keterampilan dan kualitas pengajar, khususnya dengan memanfaatkan ICT dalam proses belajar mengajar. PT. Teka Teki dinilai berhasil memberi pengaruh positif bagi perubahan kepada kehidupan komunitas guru.

Sumber :
Website resmi PT. Teka Teki 
Jurnal e-Proceeding of Management : Vol.5, No.1 Maret 2018 | Page 391

Minggu, 29 Januari 2017

Tugas Pendidikan Kewarganegaraan

Pengalaman menarik ketika belajar pkn

            Hmmm kalo bicara soal pengalaman ketika belajar pkn sih banyak banget. Tapi ini menurut pandangan saya...
Waktu perkenalan dosen pkn. Wow ga nyangka aja dosennya asik, gaul, enak pokoknya deh haha terus perkenalan mahasiswa, udah mau maju sih awalnya tapi makin rame dan banyak yang antusias yaahh gajadi akhirnya
Waktu pembagian kelompok juga menarik, dapet temen dari fakultas lain dan ternyata rumah dia deket sama saya, ya bisa dibilang anak Tangerang bersatu hahaha. Tapi ada kendala ketika membuat tugas persentasi, salah satu dari teman saya susah buat dihubungi, jadi bisa dibilang ya dia ga bantu bikin materi yang untuk dipersentasikan L. But its oke, karena ada masih bisa kerja dengan 3 orang aja. Ketika udah siap untuk maju persentasi di minggu berikut nya, ternyata harus ditunda lagi karena dosen yang bersangkutan berhalangan hadir, disitu saya dan teman-teman lebih mempersiapkan diri agar sebisa mungkin maju dengan hasil yang maksimal.
Dan... jeng jeng jeng.. hari ketika kelompok saya harus persentasi pun tiba. Pasti lah ada rasa grogi atau gugup untuk menyampaikan materi tapi kelompok saya berusaha untuk tenang agar tidak salah dalam menyampaikannya. Pernah disaat menyampaikan materi tentang soal yang harus ditanyakan itu terasa aneh bagi yang menyimak nya, jadi mereka pada bingung dengan pertanyaan yang kelompok saya ajukan hehehe
Saya paling suka ketika kelas sudah membahas kasus yang dibawa oleh tiap-tiap kelompok, kelas terasa hidup dan ini kedua kalinya saya merasakan hal ini seperti pada waktu SMA. Namun teman-teman yang saya kenal di universitas wawasan nya lebih luas dibandingkan teman saat SMA. Dikelas pkn ini pasti kita semua lebih menanggapi kasus dan menganalisisnya dengan baik. Inilah pengalaman menarik saya ketika belajar dikelas pkn.

Nilai yang bisa saya ambil dari belajar pkn

            Saat belajar pkn, saya bisa lebih mengetahui kasus-kasus yang sebelumnya saya tidak tahu. Mulai dari kasus jual beli pulau, budaya Indonesia yang diakui oleh negara lain, sampai kerajinan khas Indonesia yang diklaim juga. Jadi, pengetahuan saya mengenai kasus-kasus yang ada di negara Indonesia bisa lebih luas dan berwawasan dari sebelumnya. Tapi saya sadar, bukan hanya dikelas pkn saja saya harus mengenal kasus di Indonesia, saya juga harus lebih up to date dengan politik dan kasus kasus lainnya yang akan saya temui nantinya.


Kasus tentang “Hakim Mahkamah Konstitusi yang Ditangkap KPK”
KPK Tangkap Hakim Konstitusi Patrialis Akbar
TEMPO.COJakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, pada Rabu malam, 25 Januari 2017. Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan Patrialis ditangkap di sebuah tempat di Ibu Kota.

"Benar, ada operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK di Jakarta," kata Agus melalui pesan pendek, Kamis, 26 Januari 2017.
Menurut dia, selain Patrialis, ada sejumlah pihak yang ditangkap. Agus mengatakan penangkapan Patrialis terkait dengan kasus di lembaga penegak hukum.
Sayangnya, Agus belum menjelaskan detail kasusnya. Dia juga masih bungkam soal barang bukti yang disita. "Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan hari ini," ujar Agus.

Tim penyidik saat ini juga sedang menggeledah kediaman Patrialis di Cipinang, Jakarta Timur.

Sebelumnya, dikabarkan KPK menangkap pejabat Mahkamah Konstitusi berinisial PA. Penangkapan itu diduga dilakukan pada kamis malam. Saat dikonfirmasi, Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat belum mengetahui ihwal penangkapan tersebut.

Arief mengatakan saat ini para hakim MK sedang berada di Cisarua untuk mengadakan rapat kerja. "Saya belum dapat konfirmasi. Saya minta Sekjen untuk mencari informasi yang akurat," tuturnya saat dihubungi Tempo, Kamis, 26 Januari 2017.

Arief menuturkan para hakim yang sedang rapat kerja di Puncak, Cisarua, itu pun diminta pulang ke MK. Pukul 13.00 nanti, ia berencana memberikan pernyataan terkait dengan kabar penangkapan tersebut. "Betul atau tidak betul, saya nanti akan kumpulkan di MK," ujarnya.

Saat ditanya keberadaan PA, Arief mengaku tidak tahu. Sepengetahuannya, PA hari ini mendapat undangan untuk menjadi narasumber di salah satu sekolah tinggi di Depok. "Tidak semua hakim ikut raker, dan hari ini tidak ada jadwal sidang," tuturnya.

Tempo mencoba mengontak Patrialis untuk mengkonfirmasi. Dua nomor telepon selulernya tidak aktif saat dihubungi. (https://m.tempo.co/read/news/2017/01/26/063839948/kpk-tangkap-hakim-konstitusi-patrialis-akbar)
Analisis
Menurut saya, ini merupakan kasus kedua dari kasus sebelumnya yang dialami juga oleh mantan hakim mahkamah konstitusi yaitu Akil Muchtar dan merupakan suatu hal yang memalukan, dimana masih lemah nya iman para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya sebagai hakim di mahkamah konstitusi. Ketika masyarakat membutuhkan penegak hukum yang jujur dan adil, tetapi diresahkan lagi oleh kasus Patrialis Akbar yang juga di tangkap tangan oleh KPK yang dikabarkan karena menerima suap. Jika para penegak hukum terus menerus melakukan hal seperti dimana, bagaimana bisa hukum yang ada di Indonesia berjalan sesuai dengan keinginan hati para masyarakat.

            Seharusnya, para koruptor di Indonesia diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Namun sebelumnya para penegak hukum di Indonesia  bersih dari kata koruptor agar tidak adanya lagi kejadian seperti ini. Namun itu sangat susah untuk dicapai karena mengingat di Negara kita tercinta ini masih banyak hal yang ketidakpastian. Sangat sulit untuk menegakkan keadilan di Negara ini, jika hakim di Negara sendiri pun masih terkena tindak pidana.